PT Seni Optima Pratama – SENOTAMA
Posted July 8, 2011 by dimensistudioCategories: Desain dan Multimedia
Tags: company profile, desain cetak, SENOTAMA
PT TIMAH
Posted April 26, 2011 by dimensistudioCategories: Desain dan Multimedia
Tags: annual report, desain cetak, PT TIMAH
PT DOK software opening
Posted March 17, 2011 by dimensistudioCategories: Video dan Motion Graphic
Tags: after effect, animasi, PT DOK, video
Animasi Belajar CALISTUNGWAR
Posted March 17, 2011 by dimensistudioCategories: Video dan Motion Graphic
Tags: after effect, animasi, CALISTUNGWAR, video
satu warna… satu hati… satu sepakbola indonesia
Posted January 27, 2011 by dimensistudioCategories: Sepakbola dan Olahraga
Tags: AFF Suzuki Cup 2010, garuda, indonesia, irfan bachdim, PSSI, timnas
2010 ditutup dengan cerita manis dan sedih untuk sepakbola Indonesia. AFF SUZUKI CUP 2010 menjadi panggung mimpi sepakbola kita yang tertidur selama 19 tahun, sejak terakhir kali menjuarai SEA GAMES Manila 1991.
Sepanjang Desember Dua Puluh Sepuluh kita dikejutkan oleh euforia yang tiba-tiba saja menggelora, memerah-putihkan negeri tercinta. Alasannya satu, pesona TIMNAS Indonesia. Ya, permainan menawan Timnas seolah menyihir 200 juta lebih rakyat Indonesia. Dari tukang becak hingga presiden kompak berbicara sepakbola. Tidak hanya pria, kaum hawa pun kini mulai membuka mata dan hati untuk sepakbola. Seperti sebuah virus, demamnya cepat sekali menjalar. Tentunya bukan hanya karena permainan Timnas saja, duo pemain keturunan di Timnas menjadi daya tarik tersendiri. Wajah rupawan Irfan Haarys Bachdim dan kharisma Cristian Alvaro Gonzales menjadi alasan utama kaum hawa menjadi mendadak gibol. Irfan yang ber-ayah asli Indonesia meski ber-ibu Belanda dan lahir di Amsterdam, dia sudah memilih menjadi WNI sejak umur 18 tahun. Sejak berlaga bersama Kim Jeffrey Kurniawan dalam Charity Match di Malang dan Surabaya, agustus 2010, aku pikir keduanya adalah masa depan sepakbola kita. Ini bukan karena tampang, tapi memang karena visi dan skill bola mereka bisa menjadi bagian penting Timnas ke depan. Dan Irfan sudah membuktikan itu. El Loco atau Si Gila Gonzales adalah pemain naturalisasi pertama sebelum Kim Kurniawan. Pemain berdarah asli Uruguay ini pun tidak ragu memilih merah putih untuk menjadi warnanya. Dia yang 4 kali berturut-turut menjadi top scorer Liga Indonesia, dengan bangganya mencium Garuda di Dada saat menciptakan 3 gol indah di Senayan. Lepas dari kontroversi naturalisasi, kita harus akui kontribusi keduanya untuk Timnas. Aku cuma menggelengkan kepala atas fenomena ini. Tapi sekaligus mengacungkan jempol atas skill hebat keduanya bersama Timnas Garuda.
Piala AFF 2010 sejatinya sudah lama kutunggu sejak beberapa bulan sebelumnya. Sebagai pecinta Timnas, baik dan buruk permainannya selalu kunantikan. Aku memang milanisti dan orang Surabaya yang selalu bangga dengan Persebaya, tapi Timnas selalu yang utama. Adrenalin selalu 100% untuk Tim Garuda. Tapi aku tidak menyangka Piala AFF 2010 akan semeriah ini. Hampir 17 tahun mencintai sepakbola, baru kali ini aku melihat euforia Indonesia begitu besar untuk Tim Nasional Sepakbola. Tiada hari tanpa Timnas. Semua media berlomba-lomba bercerita tentang Timnas. Seluruh penjuru negeri ramai-ramai mengadakan nonton bareng saat Timnas berlaga. Rating televisi meningkat tajam. Penjual kaos Timnas kebanjiran rejeki dengan banyaknya orang yang ingin memakai kaos Merah Putih. Tiket jadi barang langka di Gelora Bung Karno. Puluhan ribu orang datang dari seluruh penjuru nusantara untuk memerah-putihkan Senayan. Sebuah pemandangan hebat yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Tidak ketinggalan, lagu ‘Garuda di Dadaku’ menjadi hits karena menjadi lagu wajib untuk mendukung Firman Utina dkk saat beraksi di lapangan. Sekali lagi karena Tim Nasional Indonesia.
Timnas bangkit dari mati surinya. Membangkitkan nasionalisme Indonesia. Membangkitkan asa untuk sepakbola Indonesia di pentas dunia. Sekali lagi, sepakbola adalah kebanggaan dan jatidiri bangsa. Dan sekarang kita semua ada dalam proses ini. Mengukir tinta emas dalam perjalanan sejarah sepakbola negeri. Ya, proses menuju sejarah. Sepakbola adalah proses. Bukan dongeng 1001 malam yang bisa terwujud dalam sekejap.
2011 kita seolah kembali terbangun dari mimpi indah di desember dua puluh sepuluh. Kembali ke alam nyata sepakbola Indonesia. Dengan segala hitam putihnya. Bersiap diri menjelang pertandingan-pertandingan dan turnamen berikutnya, kualifikasi Pra Olimpiade London 2012, Pra Piala Dunia Brazil 2014, dan SEA GAMES Jakarta 2011. PSSI sebagai induk organisasi sepakbola Indonesia kembali menggulirkan kompetisi Liga Super Indonesia (ISL) sebagai ajang pencarian bibit Timnas. Serta seleksi pemain Timnas U-23 untuk turnamen-turnamen di atas.
Sepakbola adalah proses, dan PSSI yakin melalui ISL bisa muncul bibit-bibit baru untuk Timnas melaui proses kompetisi yang baik. Namun seperti diketahui, seluruh elemen dan masyarakat sepakbola indonesia sudah tidak mengapresiasi ISL atau Indonesian Super League, karena carut marut di dalam kompetisi itu sendiri. Dan tentu saja PSSI yang paling bertanggung jawab atas kompetisi ini. Atas hal itu muncul reaksi dari suatu elemen masyarakat bola yang ingin membentuk dan menggulirkan kompetisi sepakbola baru di tanah air. Tercetuslah LPI atau Liga Primer Indonesia di medio 2010. Salah seorang terkaya di Indonesia yang menjadi penggagasnya. Anda sudah tahu tentunya. LPI diklaim akan menjadi liga profesional yang tidak memakai uang APBD untuk mendanai klub dalam kompetisi. Sebuah hal yang bertolak belakang dengan penerapan di ISL yang menimbulkan kontroversi tentang pemakaian APBD. LPI sudah bergulir Januari ini. Pro kontra pun muncul. Masyarakat sepakbola pun terbelah. Lihat saja pemberitaan media yang ikut menjadi dua kubu.
PSSI sebagai induk sepakbola tentunya kebakaran jenggot akan hal ini. Karena LPI berjalan tanpa rekomendasi PSSI yang dibawahi langsung oleh FIFA, Federasi sepakbola internasional. PSSI bersikukuh bahwa LPI ilegal karena tidak sesuai aturan FIFA. Meski Menpora sebagai wakil pemerintah menengahi konflik dengan mengupayakan dialog. Tapi menurutku hal itu harus dilakukan dulu sebelum membiarkan keduanya berjalan bersama seperti ini, LPI dan PSSI dengan ISL-nya. Dan Timnas yang akan dirugikan karena pencoretan pemain Timnas yang berlaga di LPI. Konflik makin tajam dengan aduan PSSI ke FIFA, dan FIFA pun merespon cepat dengan mengirim surat resmi ke PSSI. Kesimpulannya FIFA mengancam akan membekukan PSSI dari persepakbolaan internasional. Dan artinya bila itu terjadi sepakbola kita akan terjun bebas ke jurang dan mati suri.
Aku tidak dibayar Nurdin Halid dan kolega di PSSI atau menjadi tim sukses Arifin Panigoro dalam LPI, dalam menulis ini, aku hanya bagian masyarakat sepakbola Indonesia, kita adalah rakyat pecinta sepakbola nasional. Kita tentunya hanya ingin Timnas Garuda bisa mengepakkan sayap-sayapnya, terbang setinggi-tingginya. Satu warna merah putih, satu hati mendukung Timnas, satu spirit untuk kebesaran sepakbola Indonesia. Aku juga tidak mau apriori dalam usaha PSSI, LPI ataupun pihak-pihak lain dalam rangka memajukan sepakbola. Tapi tentunya mereka harus tanggalkan dulu kepentingan kelompok dan golongan mereka. Sepakbola bukan kendaraan politik, bung! Terlalu rendah rasanya. Anda sebagai orang-orang kaya sah-sah saja terlibat dalam hal ini, dan rakyat akan sangat berterimakasih dan bersimpati atas itu. Tapi sekali lagi atas niat tulus untuk sepakbola. Kita tidak bisa membayangkan kalau tiba-tiba saja suatu saat Timnas berganti kostum menjadi kuning dengan simbol beringin, atau biru dengan simbol bintang, atau bisa saja tetap merah dengan simbol banteng, tidak lucu bukan.
TIMNAS adalah yang utama, jadi mari duduk satu meja supaya semua berjalan seiring. Jangan merugikan Timnas hanya karena pertengkaran anak kecil seperti ini. Aturan FIFA dan PSSI tetap ditegakkan tanpa harus menghambat niat baik untuk memajukan sepakbola nasional. Kembali ke Rule of the Game, sportifitas, dan respect untuk sepakbola. Aku ingin PSSI yang akan berusia 81 tahun ini kembali mempunyai wibawa sebagai induk organisasi terbesar dan paling berpengaruh. Karena sebenarnya bukan PSSI-nya yang bermasalah, tapi orang-orang yang menjalankan organisasi di dalamnya. Dan harus jujur kita akui, ada beberapa orang di PSSI yang masih memegang azas profesional dan sportifitas untuk sepakbola. Senang rasanya bila suatu saat PSSI bisa mengawal Indonesia untuk mengukir sejarah emas sepakbola kita, dengan cara yang profesional dan sportif pula. Hanya untuk satu nama, Indonesia.
Indonesia memang gagal merebut juara Asia Tenggara di 2010. Tapi Timnas sudah bisa merebut hati seluruh rakyat untuk mendukungnya. Semangat militan nan pantang menyerah ala Muhammad Nasuha atau indahnya atraksi seni Oktovianus Maniani bersama skuad merah putih, sudah menjadi pelepas dahaga akan prestasi. Sesungguhnya rakyat sudah dewasa, menang atau kalah itu biasa dalam sepakbola. Lihatlah, suporter tetap damai meski kita tidak juara. Karena sportifitas adalah arwah kisah ini. Lihat pula bahwa sebenarnya kita ini masih bisa hidup rukun dalam persatuan Indonesia. Dan sepakbola.adalah tali yang mengeratkannya. Rakyat hanya butuh hiburan yang jujur, mereka juga rindu akan idola yang selama ini hanya maya, mereka hanya ingin bernyanyi dan berteriak atas nama indonesia, dan tidak perlu malu untuk bangga menjadi merah putih karena sejatinya Garuda selalu di dada mereka.
Garuda di dadaku…..
Garuda kebanggaanku…..
Kuyakin hari ini pasti menang…..
Surabaya, 21 Januari 2011
——————————-
didik7
PERTAMINA
Posted January 6, 2011 by dimensistudioCategories: Desain dan Multimedia
Tags: desain cetak, map, pertamina
iSTTS
Posted January 6, 2011 by dimensistudioCategories: Desain dan Multimedia
Tags: desain cetak, iSTTS, poster
ITS Surabaya
Posted January 6, 2011 by dimensistudioCategories: Desain dan Multimedia
Tags: desain cetak, reuni 50 ITS, undangan
PemKab. LUMAJANG
Posted January 6, 2011 by dimensistudioCategories: Desain dan Multimedia
Tags: buku agenda, desain cetak, kalender, pemkab Lumajang
PT INDOLIFT
Posted January 6, 2011 by dimensistudioCategories: Desain dan Multimedia
Tags: desain cetak, map, PT INDOLIFT









